Ratusan WNI Jadi Militan ISIS DPR Suruh Pemerintah Begini

Dunia Dalam Berita |
Warga Negara Indonesia yang menjadi militan ISIS ditangkap di Turki dan jumlahnya mengkhawatirkan.



Wakil Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid menyebut hal itu menjadi salah satu alasan mengapa penyelesaian pembahasan RUU Antiterorisme semakin mendesak.

“Iya (RUU Antiterorisme) harus dipercepat ,” kata Meutya kepada detikcom , Sabtu (14/7/2017).
Meutya semua pihak makin kompak dan tidak mementingkan ego masing-masing dalam menyusun RUU Antiterorisme. Sehingga RUU tersebut mampu segera putus dan diundangkan.

“Instansi pemerintahan kita punya polisi , kita punya BIN , kita punya TNI untuk bergerak bersama-sama secara kompak , jangan lagi ada mirip ada yang mirip kita dengar belakangan ini terutama dalam penyusunan RUU Antiterorisme siapa yang paling depan ,” ucap Meutya.

Saat ini , kendala yang dihadapi dalam menggodok RUU Antiterorisme ialah soal pembagian tugas. Kendala itu sangat menghambat padahal RUU Antiterorisme mampu dengan efektif menumpas radikalisme.

“Ini menurut gue sangat menghambat keberhasilan negara untuk melawan masuknya pengaruh-pengaruh yang sistematis alasannya ialah itukan (RUU antiterorisme) masih bergulat mengenai siapa yang terdepan , bagaimana pembagian peran antara instansi-instansi ini ,” jelasnya.

Meutya optimistis bila ketiga instansi pemerintah tersebut bersatu padu dalam RUU Antiterorisme , tindakan terorisme dan radikalisme mampu ditekan semenjak dini.

“Cepatlah dapat rumus yang sempurna untuk mengkoordinasikan semua kekuatan yang kita punya baik dari sisi kepolosian , TNI dan intelijen ,” kata Meutya.