Hati Hati! Nasehatmu Hisabmu Setiap Apa Yang Dilakukan akan Dipertanggung Jawabkan

Dunia Dalam Berita |
Memberi nasehat memang sangat mudah. Hampir semua orang bisa memberi nasehat yang sulit yakni mengamalkan nasehat bagi pemberi nasehat maupun yang dinasehati.



Memberi nasehat itu mudah. Hampir semua orang bisa memberi nasehat yang sulit yakni mengamalkan nasehat bagi pemberi nasehat maupun yang dinasehati.

Pemberi nasehat harus menjaga dua perkara:
1. Keikhlasan dikala memberi nasehat. Tidak berharap ingin disanjung atau kebanggaan lainnya. Terlebih di media umum , keikhlasan amat dibutuhkan. Ketika yang me-like sedikit terasa duka , tetapi dikala yang me-like banyak menjadi senang.

Dahulu Abdurrahman bin Mahdi pernah bertanya kepada gurunya , “aku punya majelis setiap Jum’at pagi. Apabila yang hadir banyak gue gembira dan apabila sedikit gue sedih?” Gurunya berkata , “itu majelis yang buruk , tinggalkan saja.” Semenjak itu Ibnu Mahdi tak pernah lagi mengajar di sana. (Siyar Adz-Dzahabi , 9/196).

2. Mengamalkan nasehat. Karena Yang Mahakuasa membenci orang yang mengucapkan sesuatu yang ia tidak amalkan. Bahkan orangnya terancam diazab di dalam kuburnya. Na’udzu billah min dzalik.

Yang diberi nasehat pun harus menjaga dua perkara:
1. Menerima nasehat dengan hati yang lapang. Karena itu yakni tanda keikhlasan.

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata , “Tanda orang nrimo itu yakni apabila diingatkan kesalahannya ia tidak merasa panas hatinya tidak juga ngeyel. Justru ia mengakui kesalahannya dan mendo’akannya , “Semoga Yang Mahakuasa merahmati orang yg mengingatkan kesalahanku.” (Siyar Adz-Dzahabi , 13/439).

2. Menjauhi sifat yang buruk. Ketika seseorang diberi nasehat yang dia pikirkan bukan dirinya , tapi malah bergumam , “Nasehat ini cocok buat si fulan dan si anu nih.” Padahal seharusnya yang hendaknya dia pikirkan yakni untuk dirinya terlebih dahulu.

Semoga bermanfaat.