Apakah Jilbab Tak Dilepas Sahkah Wudhu Seorang Muslimah? Begini Penjelasannya

Dunia Dalam Berita |
Tidak mirip pria yang mampu saja berwudhu dimana saja , wanita agak memiliki batasan.



Wanita memiliki aurat yang harus dilindungi dikala diluar , begitupun ketika hendak berwudhu. Saat di daerah umum yang tidak mendukung , kadang Muslimah kesulitan dikala hendak berwudu. Karena darurat , sebagaian Muslimah memilih berwudhu tanpa lepas jilbab. Lalu , apakah sah berwudhu tanpa lepas jilbab?
“Rasulullah mengusap kedua khuf dan khimar (saat berwudhu) ,” (HR. Muslim).

Hadits lainnya dari ‘Amr bin Umayyah , ia berkata , “Aku melihat Rasulullah mengusap imamah dan kedua khuf beliau ,” (HR. Al Bukhari).

Kedua hadits tersebut menjadi dalil dibolehkannya mengusap khimar atau imamah atau penutup kepala bagi pria tanpa mengusap kepala dikala berwudhu. Lalu bagaimana dengan wanita? Bolehkah wanita mengusap kerudungnya ketika berwudhu? Para ulama berbeda pendapat mengenai hal tersebut.

Ulama mazhab Maliki dan Syafi’i berpendapat wanita tidak dibolehkan mengusap kerudung atau jilbab dikala berwudhu untuk menggantikan mengusap kepala.

Hal ini sebagaimana firman Tuhan , “Dan usaplah kepala-kepala kalian ,” (QS. Al Maidah: 6). Maka apabila wanita mengusap jilbabnya , berarti ia tak mengusap kepalanya. Hal ini tidak dibolehkan.
Wanita dibolehkan mengusap jilbabnya dikala berwudhu berdasarkan dua hal. Pertama yakni adanya riwayat shahih dari Ummul Mukminin Ummu Salamah yang mengusap kerudungnya dikala berwudhu. Kedua , qiyas jilbabnya wanita dengan serban pria. Mereka mengatakan ,jilbab wanita berkedudukan layaknya mamah bagi pria. Keduanya sama-sama mengandung kesulitan untuk dilepas.

Meski mengikuti pendapat yang membolehkan mengusap jilbab dikala berwuduhu , ada hal lain yang perlu diperhatikan. Pengusapan ini hanya dibolehkan ketika berwudhu atau bersuci dari hadats kecil saja. Adapun hadats besar , maka tidak diizinkan.

Hal ini berdasarkan hadits dari Shafwan bin ‘Assal , ia berkata , “Rasulullah memerintahkan kami , apabila kami Safar , untuk tidak melepaskan Khuf (alas kaki) kami selama tiga hari tiga malam , kecuali alasannya yaitu janabah. Adapun alasannya yaitu buang air besar , buang air kecil dan tidur , kami tidak melepasnya ,” (HR. At Tirmidzi).